Seperti halnya berbagai aktifitas binis, usaha ternak juga tak kebal rugi, krisis bahkan embargo. Ikan lele yang terkenal sangat kuat dan tahan di berbagai lahan, tak kebal sampar atau stres karma gangguan petir atau kebisingan. Utamanya lele balita yang tak kenal kompromi dengan puskes¬mas atau posyandu. Jangan tanya ayam negeri yang mudah dieksploitasi, hidup bergantung jatah dan watak seragam, satu pilek yang lain solider dan kematian massal selalu mengancam.
Mereka yang ingin beternak tanpa banyak risiko sampar atau wabah lainnya, akhirnya memutuskan pilihannya pada satu pilihan brilian: beternak demonstran! Ini pilihan sangat gagah, seperti pilihan cerdik lainnya: beternak LSM atau serikat buruh bahkan ormas dan parpol.
Ada pilihan klasik yang ringan modal, besar laba, yaitu beternak mimpi. Mimpi adalah modal yang mudah didapat, bila dimanage dan didevelove dengan baik, akan memberi keuntungan yang luar biasa. Masih ingat mimpi raja Mesir yang dita'wilkan secara tepat oleh Nabi Yusuf as? Karena tak mudah merekayasa mimpi, perlu pengembangan upaya sejenis. Bukankah selain mimpi ada khayalan, yang sama-sama masih kosong? Para palter juga mengatakan, sebelum menjadi perjuangan yang intensif, produktif, efektif dan efisien, segalanya dimulai di lingkaran khayal (dairatul khayal)?
Kekalahan Bani Israil yang diselamatkan Allah dari Fir'aun dan kematian di laut merah, bersumber dari bekunya daya khayal mereka. Mereka tak pernah berpikir ada perubahan dalam hidup ini. Yang ada penindasan yang berkesinambungan, mengacu kepada nasib dan realita mereka hari ini. Kalau saja khayalan mereka bisa dimainkan untuk memahami sabda kebenaran yang diucapkan nabi Musa AS yang diperintahkan Allah clan dijamin keberhasilannya bila mereka mau saja masuk ke Bumi Suci yang dijanjikan (QS. Al Ma'idah : 20), niscaya mereka akan menang.
Apa susahnya mengkhayalkan kekuatan bangsa Amalek yang bertubuh besar di Bumi Suci yang dijanjikan, tiba-tiba menjadi lumpuh oleh faktor immaterial, yaitu kegentaran yang ditimbulkan oleh berita besar tenggelamnya Fir'aun, sang tiran yang tak punya kamus menyerah, kalah atau mundur. Bala tiba¬tiba is kalah oleh laut merah yang menenggelamkannya bersama bale tentara dan kesombongannya sendiri, siapa yang berani melawan bangsa tertindas yang dimenangkan oleh Allah? Soal tubuh kurus kurang gizi dan sakit-sakitan, orang tak menghitungnya lagi. Bisa dibayangkan, bila ada sumbatan pada saluran imajinasi, nabi pun dilawan: "Hai Musa, kami tak akan masuk kesana selama ada mereka, karenanya engkau sajalah dan Allah pergi kesana dan berperanglah berdua. Kama duduk-duduk saja disini.(QS. An Nisa' : 24).
Belakangan mereka barn memahat kuat-kuat dalam khayalan turun-temurun mereka khayalan "Sya'bullahil Mukhtar" (bangsa pilihan Allah), bahkan 'Abnaa'ullahu wa ahibbaa'uh" (Anak-anak clan kekasih Allah). Dan, khayalan out of date itu begitu kuat merasuki darah-claging mereka, menjadi pembenaran etas segala kezatiman, kekejaman dan kejahatan kemanusiaan yang mereka lakukan kepada bangsa Palestine. Bangsa yang mereka tinclas dan clunia yang mereka lecehkan.
Mimpi lain yang berbahaya dan menjadi watak turunan, yaitu mimpi 10 saudara Nabi Yusuf as dan saudara. seibunya, Bunyamin. Mimpi memonopoli kasih sayang ayah mereka, nabi Ya'qub as clan menyisihkan adik seayah mereka. Mimpi buruk ini berakar pada kedengkian dan ketidakmatangan mental. Hal yang wajar bila seorang tua mengekspresikan kasih sayangnya kepada adik kecil yang usianya boleh jadi hanya seperlima usia mereka yang tua bangka. Mimpi ini melahirkan skenario yang gawat: Bunuh saja Yusuf atau buang ke suatu negeri, agar ayah tak lagi melihatnya...
(QS. Yusuf : 9)
Yahudi dan sejenisnya pandai mengemas dan menjual mimpi. Bangsa-bangsa yang mereka jerat dengan riba dan menjadi miskin, bertambah malang dengan berbagai produk mimpi. Membangun negeri dengan judi, menjadi kaya dengan bisnis mimpi, memenangi pertarungan dengan ilmu kebal, bisnis film mimpi, dan berbagai produk mimpi lucu lainnya telah menghasilkan sekian banyak kenaifan yang mengenaskan. Berapa banyak intelektual menjadi culun karena tak pandai menata mimpi mereka. Ada rezim yang bermimpi dapat perpan¬jangan waktu memerintah, padahal rakyat tak tahan lagi dibawah rezim korup mereka. Ada arisan call yang membawa lari bermiliar uang grup mimpi mereka. Kini banyak boneka yang digerakkan battery dan battery itu adalah putau dan sejenisnya. Bila battery itu redup, bukannya mereka jadi lemas, tetapi tambah agresif. Jam dinding pusaka, perhiasan ibu, tabung gas, semua lenyap dalam sekejap untuk menyambung usia battery.
Kalau ada profesi paling mengasy-ikkan dengan pahala yang berlipat ganda di akhir zaman, mungkin kerja itu adalah memenggal kepala para pengedar dan produsen racun laknat tersebut, sesudah meminumkan mereka segala najis dan merobek-robek tubuh mereka dengan duri.
Mereka pemilik peternakan besar yang tinggal panen kapan waktu: tubuh-tubuh ringkih generasi muda yang harusnya tegar di garis depan memagari bangsa dari vista. Biar licik mereka masih dapat dihukum, apabila upaya suap sogok dan mavia hukum tak mempan lagi. Namun ada pabrik mimpi yang tak dapat didelik dengan delik kriminal, walau pun ternyata bisa clibuktikan kolusi, kolaborasi clan konspirasi mereka, serta kerugian yang mereka timbulkan. Muncul generasi aneh: sangat bangga bila sudah tidak shalat lagi atau menyebut kitab suci dengan lecehan! Ini menyangkut ekstasy pemikiran yang akut. Mangsanya bisa jadi seorang santri yang minder, orang awam atau birokrat linglung. Si minder dapat sangat merasa berjasa kepada ummat dengan mencarikan mereka jalan keluar dari masalah pelik.
Ummat kini sedang berjalan di medan tempuh yang berat. Bebatuan terjal, hutan belantara, alam yang keras dan cuaca yang tak bersahabat. Semua mengeluhkan ketidaknyamanan. Mereka tampil menawarkan solusi. Ada yang menawarkan bongkar mesin mobil. Ada yang menengarai soalnya pada kaca spion. Padahal semua baik-baik saja. Rute: jalan lurus. Roda: anti slip. Body kendaraan kokoh.
Si Pandir arogan menuduh kitab suci yang tak lengkap. Yang takut mengaku murtad, menyatakan kekagumannya kepada firman, namun sang firman tak berbatas makna, sehingga yang dominan cuma tafsir subyektif. Para praktisi mimpi ekonomi berfikir seperti sambil menenggak bergallon-gallon brendy. Jual perusahan negara yang gemuk-gemuk dengan harga dibawah pajak yang berhasil disetorkannya. Incar perusahaan sakit yang sudah kembah sehat. Biarkan perusahan sakit yang selalu menelan mangsa, seperti firma gerbong maut dan bus malapetaka.
Manusia dalam gulita yang pekat perjalanan nasib mereka, memerlukan gambaran sejati dan alat pandang yang jernih, bukan khayalan yang menyesatkan (QS. Al Baclarah : 78), fata¬morgana (QS. An Nur : 39) atau kerancuan Samiri yang berakibat fatal (QS. Thaha : 96). "Inilah (Al Qur'an) yang menjadi bashirah¬bashirah (alat pandang hakiki) untuk ummat manusia, petunjuk dan rahmat bagi kaum yang yakin." (QS. Al Jatisyah: 20). *(Oleh : KH Rahmat Abdullah)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar