laman

Rabu, 12 Januari 2011

Kasih Sayang 2,5 Persen

Jika seorang muslim berpenghasilan, maka 2,5 persen dari itu segera ia tunuaikan sebagai zakatnya.. seorang Nashrani, akan memberikan lebih banyak lagi untuk gereja; 10 persen. Tetapi yang paling hebat dalam sedekah tentu saja yahudi. Semua hartanya ia serahkan untuk tuhan. Caranya? Cukup letakkan semuanya di telapak tangan lalu lempar semua ke arah langit sambil berteriak, "Tuhan, inilah semua hartaku. Ambil darinya berapapun yang Kau mau..Sisanya yang tak Kau ambil akan jatuh ke bumi, dan hanya itulah bagianku..(Ustd Salim A fillah)

Dari kelekaran beliau, apa hikmahnya yang bisa diambil?

ikhwafillah, betapa kecil sekali Islam mewajibkan untuk menginfaqkan/menzakatkan sebagian harta penghasilan yang diperoleh setiap bulannya/tahunnya. Hanya 2,5 persen..!! dan bukan tanpa alasan mengapa Allah mewajibkan nilai itu. Ada banyak hikmah yang tersimpan dalam 2,5 persen harta yang dizakatkan, untuk muzakki terlebih-lebih untuk para mustahiq. Inilah salahsatu bentuk kasih sayang-Nya kepada kita. Apa yang akan terjadi ? Seandainya kewajiban zakat oleh Allah dinaikkan menjadi 10 persen atau bahkan semua penghasilnnya seperti kaum yahudi. Untuk sekarang kesadaran umat islam sangat tidak mungkin menunaikan zakatnya sebesar itu, kenyataannya walau hanya dengan 2,5 persen yang diperintahkan Allah SWT, kaum muslim masih banyak yang belum menunaikannya. Subhanallah...

Apakah itu kita?....

Diantara umat Islam, berbagai profesi pekerjaan digeluti untuk memperoleh kebahagian dan kesejahteraan. Nah, pertanyaannya : Berapakah umat Islam sekarang ini yang belum menunaikan zakatnya? apakah umat yang belum berzakat disebut umat islam?. Inilah sesungguhnya kewajiban kita semua. Mengingatkan, mengajak, memberi informasi tentang pentingnya berzakat dan melaksanakannya sebagai contoh bagi yang lain. Mulai dari yang kecil, mulai dari diri sendiri, dan mulai dari sekarang. Karena kebahagiaan ada pada kelapangan hati, sedangkan kesejahteraan ada pada kecukupan jiwa. Begitu banyak orang-orang yang selalu  mengharapkan uluran tangan dan belas kasih dari kita semua. Itulah sunatullah, yang Allah ciptakan untuk memberi pelajaran bagi manusia yang cukup (dalam hal harta) untuk senantisa berbagi-berbagi dan berbagi dalam kebahagiaannya dengan orang lain. Bahkan kewajiban Allah yang diperintahkan kepada manusia, selalu diiringi oleh peringatan bagi siapa yang mengingkarinya.

Allah berfirman dalam Qur'an-Nya.....
Bismillahirrahmanirrahiim
Sesunguhnya usaha kamu memang berbeda-beda
Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertaqwa
dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (syurga)
maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah
Dan adapun orang)orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup,
serta mendustakan pahala yang terbaik
maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar
Dan hartanya tidak bermanfaat baginya apabila ia telah binasa


Sejarah menulis betapa giatnya khalifah Abu Bakar As-Siddiq memerangi para penolak zakat. Tekadnya bulat walau melangkah hanya seorang diri. Dia berkata "demi Allah, seandainya mereka tetap menolak untuk memberikan zakat meskipun hanya seutas tali, aku akan bertekad memerangi mereka". Keinginan abu bakar yang begitu besar dibalut dengan keimanan kepada sang Khalik dibalik perjuangan itu, ada rasa kasih sayang di hati beliau kepada kaum yang dipimpinnya ketika itu. Subhanaallah...Allah SWT telah menitipkan kasihsayang-Nya melalui perjuangan sejarah kehidupan beliau. Adapun sekarang, bagaimana menyikapi dan mengambil pelajaran kasih sayang itu yang tertuang dalam sejarah.

Demikian dengan Umar yang berhasil mensejahterakan rakyat di seluruh wilayah kekuasaan Dinasti Umayyah. Ibnu Abdil Hakam meriwayatkan, Yahya bin Said, seorang petugas zakat masa itu berkata, ‘'Saya pernah diutus Umar bin Abdul Aziz untuk memungut zakat ke Afrika. Setelah memungutnya, saya bermaksud memberikan kepada orang-orang miskin. Namun saya tidak menjumpai orang miskin seorangpun". Di bidang fiskal, Umar memangkas pajak dari orang Nasrani. Tak cuma itu, ia juga menghentikan pungutan pajak dari mualaf. Kebijakannya itu telah menumbuhkan simpati dari kalangan non Muslim sehingga mereka berbondong-bondong memeluk agama Islam. Inilah sebenarnya cara penyebaran islam dengan akhlaq mulia seperti dicontohkan Nabi Muhammad SAW, bahwa Islam Mengajarkan Kasih Sayang. Konon semasa ia menjabat sebagai Khalifah, walaupun hanya 2,5 tahun tak satu pun mahluk di negerinya menderita kelaparan. Tak ada serigala mencuri ternak penduduk kota, tak ada pengemis di sudut-sudut kota, tak ada penerima zakat karena setiap orang mampu membayar zakat. Lebih mengagumkan lagi, penjara tak ada penghuninya. Sejak di angkat menjadi Khalifah Umar bertekad, dalam hatinya ia berjanji tidak akan mengecewakan amanah yang di embannya. Akhirnya dia berhasil mengelola negara dan memanifestasikan hadits Nabi SAW, “Seorang imam (khalifah) adalah pemelihara dan pengatur urusan (rakyat), dan dia akan diminta pertanggungjawabannya terhadap rakyatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).


Akhirnya, jika kesadaran berzakat diantara masyarakat sudah tertanam, maka kemiskinan yang mendera indonesia saat ini dapat diatasi. Allah telah memberikan jalan melalui zakat untuk menebarkan kasih sayang. Walau hanya 2,5 persen yang diwajibkan, bisa dan PASTI kemiskinan dapat teratasi. buktinya! Khalifah Umar bin abdul aziz telah menuliskan dalam sejarah....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar