laman

Minggu, 06 Februari 2011

Bahayanya Masa, kecuali jika.....

"Demi masa. sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih, dan nasihat-mensihati dalam kebenaran dan nasehat-menasehati dalam kesabaran." (QS. Al-Ashr : 1-3)

Dalam surat itu, Allah membuat general statement bahwa semua manusia akan merugi, kecuali jika ia melakukan empat hal : beriman, beramal shalih, serta berwasiat kepada kebenaran dan berwasiat kepada kesabaran. Surat ini dimulai dengan sebuah sumapah tentang waktu. dapun waktu yang dimaksud dalam ayat ini adalah kehidupan secara keseluruhan. Jika Allah bersumpah dengan salah satu makhlukNya, kata para ahli tafsir, maka makhluk itu pasti mempunyai kedudukan yang maha penting dalam kehidupan manusia. Misalnya, Allah sering bersumpah dengan langit dan bumi, atau dengan matahari dan bulan, dan mereka memiliki kedudukan penting dalm kehidupan manusia. Apabila di sini Allah bersumpah dengan waktu, maka sadarlah kita betapa pentingnya waktu dalam kehidupan kita.

Waktu adalah batas masa kerja yang membentang antara kelahiran dan kematian. Hidup adalah ujian seluruhnya. Batas masa uji itu adalah waktu hidup, atau apa yang kita sebut umur, yang membentang dari kelhiran hingga kematian. Dalam rangka unian itu, Allah menyebut syarat sukses bagi setiap manusia dintaranya ; iman dan amal, serta dakwah dan sabar.

Iman merupakan pengetahuan dan keyakinan tentang Allah dan semua kebenaran yang diturunkanNya. Tidak ada artinya pengetahuan bila tidak berujung dengan keyakinan. Akan tetapi, keyakinan tidak dapat dibangun tanpa dasar pengetahuan, dan pengetahuan itu sendiri terkait dengan dimensi akal, sedangkan keyakinan terkait dengan dimensi hati. Adapun amal shalih adalah pembuktian terhadap pengetahuan dan keyakinan tersebut melalui tindakan dan perilaku keseharian. Iman yang terdiri dari pengetahuan dan keyakinan itu selamanya akan tetap gelap sampai ia menjadi nyata melalui tindakan fisik. Dengan demikian, iman dan amal shalih mengintegrasikan tiga dimensi kita ; akal, hati dan fisik. Sampai di tahap ini, kata Ibnu Qayyim, seseorang dianggap mencapai kesempurnaan pribadi.

Akan tetapi, Allah tidak menginginkan seorang Muslim berhenti pada kesempurnaan pribadinya saja. Ia harus melangkah lebih jauh, menuju masyarakat dan menjadi partisipan kebajikan yang aktif, serta menjadi distributor kebaikan dan rahmat yang gesit, melalui kegiatan saling berwasiat kepada kebenaran dan kesabaran. Hal tersebut mengharuskan seorang Muslim melebur dengan masyarakatnya. Ia harus berintegrasi, bekerjasama, dan bersinergi dengan mereka dalam mendukung semua proyek kebajikan, dan melawan semua proyek kerusakan; menegakkan kehidupan yang bersih, adil dan makmur; kehidupan yang dipenuhi cahaya langit dan berkah bumi, kedamaian jiwa dan kemakmuran materi. Sampai di sini, kata Ibnu Qayyim, seseorang Muslim dianggap melengkapi kesempurnaan pribadinya dengan kesempurnaan sosial.

Pada saat seorang Muslim telah mencapai kesempurnaan pribadi dan sosialnya, maka hanya ada satu hal lagi nyang dia perlukan, yaitu bagaimana bertahan dalam kesempurnaan itu sampai akhir hayat. Sebab, nilai seorang tidaklah ditentukan di awal hidupnya, tidak juga di pertengahan hidupnya, tetapi justru di akhir hidupnya. Itulah makna istiqomah atau konsistensi. Dan kekuatan yang dapat membuat kita tetap konsisten adalah kesabaran.

Namun, hal yang dpat membuat kita sabar adalah efisiensi dn efektivitas dalam hidup. Dalam proses partisipasi sosial, kita tidak dapat menjadi segalanya, atau melakukan segala hal. Jadi, kita harus bisa menghemat energi agar kita dapat mencapai output maksimum dengan keterbatasan energi yang kita miliki. Caranya adalah memilih peran yang tepat, yang sesuai dengan kompetensi inti kita. Hanya dengan demikian kita bisa menjadi ulung. Sebab, Allah SWT telh berfirman, "katakanlah, tiap-tiap orang bekerja menurut keadaan (diri)ny masing-masing." (QS. Al-Isra' : 84), dan Rasullulaah saw bersabda, "Setiap orang dimudahkan melakukan sesuatu yang untuknya ia ciptakan." (HR. Muslim)

Next Inpirasi...
"Janganlah kamu menjadi pengikut buta (orang yang tidak memiliki prinsip hidup), yaitu orng yang berkata, Apabila manusia berbuat baik, maka kami akan berbuat baik, dan apabila mereka melakukan kezhaliman maka kami akan melakukan kezhaliman juga. Akan tetapi, tetapkanlah pendirianmu. Apabila manusia berbuat kebaikan, maka kamu juga akan melakukan kebaikan, dan apabila mereka berbuat kejahatan, maka janganlah kamu ikut melakukan kejahatan (kezhaliman)." (Sunan At Tirmidzi)

1 komentar: