Seorang remaja, sebut saja taftazani, tertegun, kikuk, dan serba salah. Dia merasa seperti orang asing, di tengah-tengah sekumpulan laki-laki lain seperti dirinya.
Sebagai muslim yang sedang mulai melek syariat, dia memang sedang haus-hausnya akan ilmu agama yang lurus. Meski harus berjibaku denga rasa sungkan untuk hadir di majeis taklim itu, ia paksakan diri juga. Dengan sedikit ragu, ia masuk keruag ikhwan, di masjid sebuah ma’had di kotanya.
Setelah dapat duduk dan berbasa-basi sebentar dengan kiri kanan, ia mulai berkonsentrasi menyimak materi. Di tengah kajian, ada semacam kegelisahan berkecamuk dalam jiwanya. Kesejukan hati dari siraman rohani, sedikit terganggu dengan keresahan yang masuk pelan, menohok perasaan. Keresahan, yang bias disebut sebagai keganjalan, kenapa di tengah suasana seramai itu justru ia merasa sendiri?
Benar, di siang yang terik itu, ia merasa bagai mahluk di planet lain. Beragam pertanyaan menyesaki pikirannya. Bukankah kita berada disini, dalam acara yang sama, dengan niat dan tuuan yang tak berbeda? Kenapa aku tak bisa merasa nyaman seperti ikhwan-ikhwan itu, yang asyik bergerombol dengan sesame kawannya?
Pada poin ini, ia baru muai menyadari kenapa muncul perasaan ini. Penampilannya, sangat berbeda dengan kebanyakan mereka. Dengan celana jin banyak saku, kaos panjang dengan gambar dan tulisan “skypunk”. Hmm ia benar-benar jadi bintang tamu di acar itu.
Suara speker yang keras, di tingkahi berisiknya anak-anak yang pada rewel, masih kalah disbanding kerasnya pertanyaan yang mencubit-cubit hatinya. Bukankah aku ini orang baru, dan kalian sangat senang dengan masuknya orang-orang sepertiku, kenapa kalian justru cuek padaku? Bagaimana kalau aku kapok, dan tak mau taklim lagi? Bagaimana kalau aku lari bukan karena menolak dakwah kalian, tapi justru gara-gara ketidak pedulian dan egoism yang kalian pertontonkan, yang sangat menyakiti perasaanku.? Bagaimana jika di tengah kebimbangan, rapuhnya iman, minimnya ilmu, dan kurangnya teman yang menguatkan, datang orang sesat yang merayu dan meluluhkan hatiku? Bagaimana kalau kejadian ini tak hanya menimpaku, tapi juga oleh ribuan dan jutaan aku yang lain?
Ya, meski sudah lebih sepuluh tahun berlalu, dan ia kini juga sudah berenampilan syar’i seperti ikwan-ikhwan di kajian itu, mimpi buruk itu selalu saja mengganggu. Petanyaan bernada protes, masih saja nyelonong tanpa permisi, saat ia saksikan lagi perisstiwa serupa sekarang ini. Meki menyesakkan, ia tak penah lupa menjadikannya pelajaran, untuk menghargai, siapa pun aku itu…..Allahuakbar!!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar