laman

Jumat, 18 Maret 2011

Inilah jalanku

“orang-orang barat kesulitan menemukan literature tentag islam karena sejak adanya perang salib, telah terjadi konspirasi tutup mulut dan pemutar balikan fakta tentang islam di sana”
Muhammad john Webber ( Ketua dari English Muslim Mussion )

Sungguh benar ketika aku menemukan info tertulis tentang islam di tahun 1990 (sebelum adanya internet), aku tak menemukan satupun hal yang baik tentang islam. Semua sumber yang ada sudah dipenuhi dengan hal-hal negative yag cukup membuat orang-orang barat jijik.


Akan tetapi Allah SWT bisa memilih siapa pun yang Dia inginkan, kapan pun dan dimana pun. Subhanallah. Allah maha Sempurna.“dan allah menyeruh (manusia) ke Darussalam (syurga), dan memberikan petunjuk kepada orang yang Dia kehendaki ke jalan yang lurus (islam).” (Yunus:25)

Seingatku, ketika aku kecil, aku sudah percaya adanya tuhan. Saat berumur lima tahun, aku mendoakan ajing Chihuahuaku supaya masuk surga. Ketika umur delapan tahun, aku masih ingat dengan berlinangan air mata aku berdoa supaya john, adik ku sayang, kelak tidak dikirim untuk perang. Aku tidak sanggup membayangkan jika kelak dia terbunuh dengan cara seperti itu doaku dikabulkan. Alhamdulillah.

Ketika belia aku aktif dikegiatan pramuka. Aku sangat menyukai binatang dan outdoor. Aku tidak punya banyak mainan, tapi aku punya anjing keturunan Skotlandia, dua ekor katak dan seekor salamander dan menghabiskan waktukku di luar di sekeliling rumah yang masih asri dan banyak pepohonan. Aku tinggal di Diamond Spring, sebuah kota kecil yang terletak di bukit pegunungan Sierra Nevada, di Kalifornia Utara. Aku benar-benar menyukai alamnya meskipun aku tidak menyadarinya, Tuhan seolah berbicara padaku melalui indahnya warna-warni dedaunan pohon yang ku koleksi layaknya permata yang berharga.

Namun hari-hari ceriaku seketika berubah drastic ketika ibuku bercerai dengan ayah tiriku. Saat itu aku berumur tiga belas tahun. Kami pendah ke kota lain dan tinggal di apartemen. Aku punya beberapa teman dan aku juga masih bias mengunjungi anjing kesayanganku yang dikirim ke tempat kakaku, tapi kurasakan hidupku tak lagi sebahagia dulu untuk waktu yang lama.

Ibuku mengajari kami untuk percaya adanya Tuhan dan ciptaan-ciptaanNya. Dia melarang kami menghujat Tuhan dan menggunakan nama tuhan dengan sia-sia. Baginya, menilai orang lain adalah dosa seperti halnya berbohong dan mencuri. Dia banyak mengajari kami nilai-nilai yang baik. Akan tetapi, tak pernah ada kitab injil di rumah kami, kami juga tak pernah di bawa ke gereja ataupun disuruh memeluk suatu agam. Dari segi keagamaan, kami memang banyak kekurangan nilai-nilai religi. Dan seandainya saja, aku dibesarkan dalam lingkup islam, mungkin aku bisa terhindar dari banyak kemaksiatan yang dulu sering kujalani.

Menjadi seorang remaja di tahun 70an dan dibesakan hanya oleh ibu pekerja yang sibuk, membuat aku dan adikku jadi kurang pengawasan dan sering ditinggal sendiri di rumah. Kami bebas berbuat semaunya. Celakanya lagi di Amerika, narkoba dan minuman keras sudah jadi konsumsi sehai-hari para remaja, begitu pula hal-hal terlarang lainnya. Yang ku ketahui, seandainya ada seorang figure ayah di samping dkami, tidak hanya ibuku saja, mungkin perjalanan hidupku akan berbeda. Lantas bagaimana Allah membimbingku memilih islam? Pertama-tama aku akan menjelaskan beberapa hal.

Ketika aku berumur 20 tahun, aku mengalami kecelakaan mobil yang mengerikan. Mobilku dengan keepatan tinggi menjadi seolah-olah terbang terbang keluar dari jaan sehingga sudah terbayang kematian dibenakku. Mendadak di udara mobilku berubah arah, kemdian jatuh kedalam tiga puluh kaki ke tanggul pematang, dan mendarat diantara dua blok semen. Aku selamat. Aku menyebut-nyebut nama Tuhan berkali-kali dengan gemetar. Aku heran, dar arah mobilku keluar jalur dan arah mendaratnya, kenapa berbeda arah. Seandainya tidak, tentu aku sudah jatuh dan menabrak bangunan kokoh yang ada di sana. Alhamdulillah aku selamat, dari hasil sinar X, tidak ada geger otak atau patah tulang, hanya goresan luka kecil. Kemudian setelah kejadian itu ibuku mengajak kami pindah ke kalifornia utara. Di sana kami membeli sebuah rumah dan mulai memperbaiki diri dengan mulai ikut kegiatan keagamaan, yaitu bergabung dengan gereja. Aku juga beruaha kras menjauhkan diri dari alkhoho dan narkoba. Aku berusaha mencari lingknga pergaulan yang baik. Alhamdulillah aku mendapat pekerjaan dengan lingkungan orang-orang baik. Aku bahkan punya tetangga dan teman kerja Muslim yang selalu ramah dan baik kepada kami.

Menginjak usia dua puluh lima tahun, aku bergabung dengan gereja Methodist, dan di sanalah aku belajar banyak hal. Pertama, aku menemukan ternyata injil sangatlah membingugkan, di dalamnya terdapat banyak sekali kontradiksi dan kesalahan-kesalahan. Bahkan cendikiawan Yahudi, Kristen dan Islam pernah bersama-sama membahasnya dalam seminar terbuka. Sekarang ini di seminar-seminar di Amerika Serikat, injil lebih diangga karya literature manusia daripada sebagai kitab yang memuat firman-firman Tuhan.

Padahal sebagai pendatang baru umat Kristen, aku benar-benar serius ingin menjalani hidup yang bersih dan religious sesuai perintah Tuhan. Tapi aku malah diajari berdoa dengan nama Yesus, bukannya dengan nama Tuhan. Pastur yang memimpin doa pasti diawali dengan berkata “Dengan nama Yesus Kristus kami berdoa, amin…” aku menurut saja awalnya, tanpa berpikir gereja akan membawaku ke neraka kelak. Kemudian aku menyadari setelah meneliti di injil ternyata hal tersebut tidak tercantum di injil. Tapi mengapa, para pemimpin di gereja dan umat kristiani terus saja melakukan hal ini. Ini benar-benar berbahaya dan gila. Berdoa dengan nama Yesus, Yesus adalah Tuhan, atau bagiandari trinitas adalah hal-hal yan tidak akan kamu temukan di injil.

Maka, setelah banyak menemui kejanggalan di atas, Allah SWT mempertemukan aku dengan seorang muslim, salah seorang relasi perusahaan. Saat itu dia sedang berusaha di bulan ramadhan tahun1990, dan pembicaraan pertama yang kami lakukan adalah tentang agama. Aku benar-benar heran, kok dia bisa menjalani separuh harinya tanpa makn ataupun minum air, padahal saat itu siang hari dan cuaca sangat panas. “setetes airpun engkau tidak boleh minum? Atau, permen karet juga tidak boleh?” tanyaku. Kemudian ketika aku melihat bagaimana dia dan teman-temannya shlat di masjid, menurutku itu sangat menyejukkan, sangat sesuia, sangat terhormat, yang kemudian kuketahui sama seperti cara Yesus beribadah seperti yang digambarkan dalam injil perjanjian baru. Tanpa alas kaki, setelah membersihkan diri dengan air (wudhu dalam istilah islam), Yesus melakukan ruku dan sujud.
Kemudian ketika aku mengetahui bahwa dalam islam, yesus hanyalah seorang nabi dan bukan Tuhan atau anak tuhan, atau pun bagian dari trinitas, bahwasanya ia tidak disalib, akan tetapi orang lain yang diserupakan dengannya, aku tahu aku telah menemukan jawaban yang selama ini aku cari. Dan ketika aku mempelajari bahwa islam melarang minuman keran dan segalam macam bentuk narkoba, aku merasa yakin inilah cara hidup yang Tuhan inginkan bagi umat manusia! Maka, tanpa ragu lagi aku memelut agama islam.

Alhamdulillah, setahun kemudian aku menikah dengan seorang muslim, yang Allah takdirkan telah memepertemukan aku dengan islam. Bersama kami meninggalkan Amerika dan tinggal di negaranya, Jeddah, Arab Saudi. Di sana aku berkesempatan menulis buku tentang kultur Barat dan Islam, dan di terbitkan tahun90an. Selain memperoleh gelar sarjana, aku juga mendapat penghargaan karya tulis dari Universitas Penn State. Sejak meninggalkan Amerika Serikat, banyak sekali karunia yang Allah SWT limpahkan kepadaku, terutama kemudahan-kemudahan dlam memperdalam diin islam. Subhanallah puji syukur ku panjatkan atas nikmatnya islam dan iman yang Allah SWT karuniakan kepadaku.

Oleh : Laura Hill (www.islamreligion.com)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar